Jam 8 pagi. Lo buka lemari. Ambil sweater kesayangan yang udah lo pake sejak SMA. Bolong di siku? Udah ditambal. Warna pudar? Biarin. Lo pake, foto, upload ke TikTok dengan caption: “12 years and still going strong ✨”
Jam 12 siang. Lo liat notifikasi. 50 ribu likes. Ratusan komentar: “Queen of sustainability!”, “This is real underconsumption core”, “Aku juga masih pake baju jaman SD loh!”
Lo senang. Lo bangga. Lo ngerasa jadi pahlawan lingkungan.
Tapi di dalem hati, lo inget: “Gue beli sweater ini jamanku SMA. Sekarang umur gue 28. Sebenernya ini karena gue nggak punya duit beli baju baru, atau gue emang lagi tren?”
Selamat datang di Underconsumption Core 2026.
Istilah ini lagi viral di TikTok. Ribuan anak muda pamer botol minum 12 tahun, sweater bolong, make-up sampe ke dasar kemasan, bahkan alas kaki yang udah bolak-balik ditambal . Mereka bangga bisa bertahan dengan barang-barang usang di tengah gempuran fast fashion dan budaya haul yang nggak ada habisnya.
Tapi di balik semua itu, ada paradoks yang menggelitik: apakah ini perlawanan tulus terhadap konsumerisme, atau cuma gaya hidup minimalis yang jadi senjata terakhir kelas menengah yang lagi terhimpit ekonomi?
Apa Itu Underconsumption Core?
Underconsumption core adalah tren media sosial, khususnya di TikTok, di mana para kreator mempromosikan konsep hanya membeli apa yang lo butuhin, dan memakainya sampai habis atau benar-benar usang . Ini kebalikan dari “haul culture” yang selama bertahun-tahun mendominasi platform media sosial .
Ciri-ciri underconsumption core:
- Pakai sepatu yang sama selama bertahun-tahun
- Menghabiskan skincare sampai tetes terakhir sebelum beli baru
- Menyimpan toples kaca buat dipake lagi
- Mendaur ulang baju atau furnitur bekas
- Bangga sama barang yang udah dipakai bertahun-tahun dan masih dirawat
Kreator kayak Christine Lan dari Montreal ngejelasin: “(I like) appreciating everything that I have to the fullest and making sure when I do buy something, that it’s made of good quality and will last” . Intinya, bukan cuma soal hemat, tapi soal menghargai apa yang udah lo punya.
Latar Belakang: Kenapa Tren Ini Muncul?
Underconsumption core nggak muncul tiba-tiba. Ini adalah evolusi dari gerakan online sebelumnya kayak “de-influencing” , di mana kreator justru nyuruh followers buat nggak beli produk viral tertentu . Bedanya, kalo de-influencing lebih ke “jangan beli ini”, underconsumption core lebih ke “pakai yang udah lo punya” .
Apa yang mendorong tren ini?
Pertama, tekanan ekonomi. Setelah pandemi, inflasi melonjak, biaya hidup naik, harga rumah dan barang konsumen makin nggak terjangkau buat Generasi Z dan milenial . Di Kanada, tingkat pengangguran pemuda tembus 14,2 persen—tertinggi dalam satu dekade di luar masa pandemi .
François Côté, CEO Fig Financial, bilang: “If you don’t have a job or if you’re facing economic pressure, then certainly it’s difficult to overconsume” . Artinya? Banyak anak muda yang sebenernya nggak punya pilihan selain underconsume.
Kedua, kelelahan sama budaya konsumerisme. Influencer setiap hari pamer haul, unboxing, koleksi makeup ratusan item, lemari penuh baju yang mungkin cuma dipake sekali . Orang mulai muak. Satu komentar di TikTok underconsumption core nulis: “I would watch so many versions of this all the way through! It’s so cool seeing other people with similar pared-down, anti-consumption-focused routines” .
Ketiga, kesadaran lingkungan. Fashion adalah polutan terbesar kedua di dunia. Sebagian besar baju layak pakai berakhir di tempat pembuangan akhir . Analisis The Australia Institute nemuin Australia jadi konsumen tekstil terbesar per kapita di dunia, dengan rata-rata setiap orang beli 56 item baju baru per tahun dan total 200.000 ton tekstil berakhir di TPA setiap tahun . Generasi muda makin sadar dampak ini dan milih jalan yang lebih sustainable .
Dua Wajah Underconsumption Core: Antara Perlawanan dan Keterpaksaan
Nah, ini yang menarik. Di balik satu hashtag yang sama, ada dua realitas yang berbeda.
Wajah 1: Perlawanan Sadar terhadap Konsumerisme
Bagi sebagian orang, underconsumption core adalah pilihan sadar. Mereka memilih untuk melawan arus konsumerisme yang menggila. Mereka paham dampak lingkungan dari fast fashion. Mereka milih kualitas daripada kuantitas. Mereka bangga bisa berkontribusi mengurangi sampah tekstil .
Jennifer Wang, apoteker sekaligus content creator, punya deskripsi profil di TikTok: “buy less but buy well” . Dia fokus ngajarin followers cara menentukan kualitas pakaian. Ini bukan cuma soal hemat, tapi soal cerdas dalam memilih.
Emily Gardner dari Spring Financial bilang tren conscious spending ini bakal terus tumbuh, bahkan kalo hashtag #underconsumptioncore-nya sendiri mungkin bakal berlalu .
Wajah 2: Keterpaksaan Ekonomi yang Dikemas Jadi Gaya Hidup
Di sisi lain, ada kritik pedas: underconsumption core adalah kemasan cantik dari kemiskinan.
Beberapa komentar di TikTok nulis: “Underconsumption? I think you mean what low-income people have been doing for ages” . “Normal consumption is a reasonable middle but it don’t roll off the tongue,” tambah yang lain .
Profesor Keuangan Universitas New Mexico, Reilly White, ngejelasin bahwa konsumen top 10% bertanggung jawab atas 50% konsumsi di AS . Artinya? Sebagian besar orang sebenernya udah lama hidup dengan “underconsumption” karena nggak punya pilihan. Yang sekarang lagi tren adalah kelas menengah yang baru ngerasain pahitnya ekonomi.
Omar Fares dari Toronto Metropolitan University ngingetin: ada kesalahpahaman tentang apa itu konsumen sehat. “Minimalism in essence means ‘Well, I don’t really buy and I live in a very frugally. I just barely meet my needs.’ Over the long term, it creates emotional distress” . Kalo lo underconsume cuma karena nggak punya duit, itu bukan gaya hidup, itu tekanan.
Kritik dan Kontroversi: Antara Performativitas dan Elitisme
Underconsumption core nggak lepas dari kritik. Beberapa poin penting:
1. Normal Consumption Core
Kritikus bilang apa yang disebut “underconsumption” sebenernya adalah pola konsumsi normal yang udah dilakukan kelas pekerja dan imigran sejak lama . Masyarakat terlalu terbiasa dengan kemewahan influencer, sampe yang normal aja dianggap “under” . Padahal, beli baju sekali setahun, make-up dipake sampe habis, itu dulu adalah… biasa.
2. Performativitas dan “Poverty Cosplay”
Yang lebih nyebelin: ada influencer kaya yang pura-pura miskin buat konten. Mereka pake barang usang, tapi di sisi lain masih pake produk desainer mahal yang jumlahnya dikit . Ini disebut “poverty cosplay” —main peran jadi miskin buat dapet views .
Sebuah analisis akademis dari Lancaster University bahkan nyebut underconsumption core sebagai “post-political attachments to feminised personal responsibility and ‘ethical elitism'” yang berisiko memperkuat hierarki sosial-ekonomi . Artinya? Tren ini malah bisa bikin orang kaya merasa lebih “etis” padahal mereka masih punya privilese besar.
3. Luxury Minimalism
Beberapa kreator justru mempromosikan luxury minimalism: koleksi barang yang sedikit tapi semuanya mahal dan desainer. Alasannya? “Better quality items last longer” . Ini paradoks: lo ngaku anti-konsumsi, tapi lo beli baju Rp 5 juta sepotong. Iya, lo beli cuma satu. Tapi itu tetep mahal dan nggak semua orang bisa.
Di China, fenomena serupa juga muncul. Ada “deinfluencers” yang tetap beli produk mewah minimalis—kayak kaos putih polos seharga ribuan yuan—meskipun mereka secara total beli lebih sedikit . Netizen pun protes: ini beneran underconsumption atau cuma rebranding gaya hidup mahal?
4. Kegagalan Menyentuh Akar Masalah
Kritik paling tajam: underconsumption core gagal menuntut perubahan sistemik dari kapitalisme . Isaias Hernandez (@queerbrownvegan) bilang: “It’s time for the modern American consumer to get back into demanding what’s right” . Menuntut upah adil, dampak lingkungan dari korporasi besar, bukan cuma pamer botol minum 12 tahun.
Penelitian akademis menyebut underconsumption core sebagai “consumer counter-mythologies” yang malah mengukuhkan realitas kapitalisme yang dilawannya . Lo pikir lo melawan, tapi lo cuma jadi bagian dari siklus yang sama.
Underconsumption Core dan Kelas Menengah: Senjata atau Jebakan?
Nah, ini yang paling relevan buat lo. Di mana posisi kelas menengah di tengah tren ini?
Kelas menengah Indonesia—lo dan temen-temen lo—lagi terhimpit. Inflasi, PHK, pendapatan stagnan. Beli baju baru bukan lagi keputusan enteng. Tapi lo juga nggak mau ketinggalan tren. Lo pengen tetap “keren” di mata temen-temen.
Masuklah underconsumption core. Tren ini ngasih lo pembenaran sosial buat nggak beli baju baru. Lo bisa bangga pake baju bolong. Lo bisa pamer botol minum 12 tahun. Lo nggak perlu malu lagi karena nggak bisa beli barang baru.
Tapi pertanyaannya: ini senjata atau jebakan?
Senjata, kalo lo bener-bener sadar dan milih jalan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap konsumerisme yang merusak lingkungan dan dompet. Lo paham bahwa kebahagiaan nggak datang dari barang baru. Lo belajar menghargai apa yang lo punya. Lo jadi konsumen yang lebih cerdas .
Jebakan, kalo lo cuma ikut-ikutan tanpa sadar bahwa lo sebenernya lagi meromantisasi kemiskinan. Lo pikir lo keren, padahal lo cuma korban ekonomi. Dan yang lebih parah: kalo suatu saat ekonomi membaik, lo bisa balik lagi ke pola konsumsi lama—bahkan lebih parah—karena selama ini lo ngerasa “terbelenggu”.
Seperti ditulis di Esquire: “If budget is what’s holding you back, what happens when circumstances allow you to splurge?” . Pertanyaan penting.
Data yang Bicara
Dari berbagai sumber, kita bisa lihat gambaran:
- Underconsumption core muncul pertengahan 2024 sebagai evolusi dari de-influencing
- Tingkat pengangguran pemuda Kanada 14,2% —tertinggi di luar pandemi dalam satu dekade
- Australia konsumen tekstil terbesar per kapita —56 item baju baru per orang per tahun
- Top 10% konsumen AS bertanggung jawab atas 50% konsumsi
- Fashion adalah polutan terbesar kedua di dunia
- Kritik akademis menyebut tren ini sebagai “ethical elitism” yang memperkuat hierarki sosial
Common Mistakes yang Sering Dilakuin
1. Mikir Underconsumption = Pelit
Banyak orang salah paham. Underconsumption bukan berarti lo nggak boleh beli apa pun. Tapi lo beli dengan sadar, pilih kualitas, dan rawat barang lo dengan baik .
Actionable tip: Bedakan “frugal” dan “pelit”. Frugal itu cerdas mengelola uang. Pelit itu nggak mau keluar duit meskipun butuh. Underconsumption itu frugal, bukan pelit.
2. Nge-judge Orang yang Masih Beli Baru
“Lo beli baju baru? Nggak sustainable!” Ini toxic. Belum tentu. Mungkin baju lama lo udah hancur. Mungkin lo beli second-hand. Mungkin lo emang butuh.
Actionable tip: Fokus ke diri sendiri. Kalo lo bisa bertahan dengan barang lama, syukuri. Tapi jangan jadi polisi konsumsi orang lain.
3. Lupa Bahwa Ini Bukan Solusi Tunggal
Underconsumption core itu tren individu. Tapi masalah konsumerisme itu sistemik. Kalo lo cuma fokus ke pilihan pribadi tanpa nuntut perubahan dari korporasi, lo cuma ngobatin gejala, bukan penyakit .
Actionable tip: Selain milih beli lebih sedikit, dukung juga kebijakan yang mendorong keberlanjutan. Tuntut transparansi dari brand. Pilih yang beneran peduli lingkungan, bukan cuma greenwashing.
4. Overproud Sampe Lupa Realitas
Bangga pake baju 12 tahun itu boleh. Tapi inget: nggak semua orang punya baju yang bisa bertahan 12 tahun. Nggak semua orang punya akses ke produk berkualitas yang tahan lama. Ini soal privilese juga.
Actionable tip: Stay humble. Apresiasi perjuangan lo, tapi jangan lupa bahwa orang lain mungkin punya jalan berbeda.
Practical Tips: Gimana Cara Jadi Bagian dari Underconsumption Core yang Sehat?
1. Kenali Motif Lo
Tanya ke diri lo: “Gue underconsume karena emang pilihan sadar, atau karena nggak punya duit?” Jawabannya penting. Kalo karena pilihan sadar, lo bisa lanjut dengan lebih mantap. Kalo karena ekonomi, jangan malu. Tapi jangan juga romantisasi keterpaksaan.
2. Rawat Barang Lo
Kunci underconsumption adalah perawatan. Baju dicuci dengan benar, sepatu disimpan dengan baik, elektronik dirawat rutin. Barang yang dirawat bisa bertahan bertahun-tahun .
Tips dari Jennifer Wang: Sebelum beli, tanya: “Do I have something similar already? Will I get good use out of this?” . Belanja offline juga bisa bantu lo lebih selektif daripada beli online.
3. Beli Second-Hand
Thrifting lagi naik daun, dan ini bagian dari underconsumption core . Lo bisa dapet barang berkualitas dengan harga murah, sambil ngurangin limbah tekstil. Win-win.
4. Perbaiki, Jangan Ganti
Baju bolong? Tambal. Sepatu lepas sol? Bawa ke tukang sol. Elektronik rusak? Coba servis dulu. Budaya “repair” ini yang pengen dihidupin underconsumption core .
5. Buat Anggaran Realistis
François Côté saranin: treat your personal life as a “mini-business.” Building a budget, understanding the money that’s going out, and having a plan are really the first steps to consume sustainably . Dengan anggaran, lo bisa bedain mana kebutuhan dan mana keinginan.
6. Cari Keseimbangan
Omar Fares ngingetin: jangan terlalu ekstrem. Ada keseimbangan antara utilitarian spending dan nggak boleh terlalu deprivasi diri sendiri atas nama minimalisme . Kalo lo terlalu keras sama diri sendiri, malah bisa timbul emotional distress.
Kesimpulan: Antara Perlawanan, Tren, dan Realitas
Fenomena underconsumption core 2026 ini sebenernya cerminan dari situasi yang kompleks.
Di satu sisi, ini adalah perlawanan terhadap budaya konsumerisme yang udah kelewat batas. Anak muda mulai sadar bahwa kebahagiaan nggak datang dari barang baru. Mereka mulai menghargai apa yang mereka punya. Mereka mulai mempertanyakan dampak lingkungan dari fast fashion . Ini positif.
Di sisi lain, ini juga adalah cermin pahit kondisi ekonomi. Banyak yang underconsume bukan karena pilihan, tapi karena nggak punya pilihan . Pengangguran tinggi, inflasi, biaya hidup mahal—semua memaksa orang untuk hidup lebih hemat. Dan ketika keterpaksaan ini dikemas jadi tren, ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan.
Yang paling kritis: underconsumption core bisa jadi jebakan kelas menengah. Lo pikir lo lagi keren dan sadar lingkungan, padahal lo cuma korban ekonomi yang nggak punya pilihan. Lo pikir lo melawan sistem, padahal lo cuma jadi bagian dari siklus konsumerisme yang sama—cuma dengan wajah berbeda.
Seperti ditulis di Mashable: dengan mengubah underconsumption jadi “aesthetic”, tren ini berisiko jadi “just another form of consumerism” . Lo mungkin nggak beli banyak barang, tapi lo beli “identitas” sebagai orang yang underconsume. Dan itu tetep konsumsi.
Tapi bukan berarti tren ini nggak berharga.
Emily Gardner bilang: “As economic challenges persist, people are more likely to adopt underconsumption practices — ways to live more sustainably and financially long-term as opposed to just a short tip-top trend” . Yang penting adalah nilai di balik tren ini, bukan hashtag-nya.
Jadi, gimana dengan lo? Lo tim underconsumption core?
Kalo lo milih jalan ini, pastikan itu pilihan sadar, bukan keterpaksaan yang diromantisasi. Pastikan lo paham bahwa ini bukan solusi tunggal atas krisis iklim atau kesenjangan ekonomi. Pastikan lo tetap kritis sama sistem yang lebih besar, bukan cuma fokus ke pilihan individu.
Dan yang paling penting: nikmatin prosesnya. Bangga pake baju lama itu boleh. Tapi jangan lupa bahwa di balik setiap barang yang lo rawat, ada cerita—tentang lo, tentang ekonomi, tentang dunia yang lagi berubah.
Jadi, lo tim underconsumption core?