Fenomena 'Generasi Nge-Kost Forever': Usia 30 Masih Kost, Beli Rumah Nggak Kepikiran, Netizen: 'Beli Rumah Mahal, Mending Nikmatin Hidup'

Fenomena ‘Generasi Nge-Kost Forever’: Usia 30 Masih Kost, Beli Rumah Nggak Kepikiran, Netizen: ‘Beli Rumah Mahal, Mending Nikmatin Hidup’

Uncategorized

Halo, para pejuang kontrakan! Yang setiap bulan ngalamin ritual pindah-pindah kamar karena harga naik terus. Yang hafal betul rasa galau pas lihat iklan KPR di TV. Yang kadang ditanyain om-tante: “Kapan beli rumah, Nak? Masa gede-gede masih kost?”

Gue yakin, lo pasti pernah ngalamin momen itu. Kumpul keluarga, tiba-tiba ada om atau tante yang nyeletuk, “Udah punya rumah belum?” atau “Masih kost aja, sih?” rasanya pengen ngomong, “Om, beliin dulu, om, baru gue pikir.”

Tapi realitanya sekarang beda. Dulu, punya rumah sendiri itu kayak “cita-cita wajib” setiap orang dewasa. Sekarang? Banyak anak muda usia 30-an yang milih tetap kost. Bukan karena nggak mampu (beberapa bahkan punya gaji lumayan), tapi karena mereka ngitung ulang: Cicilan KPR 30 tahun vs kost fleksibel kapan pun pindah. Mana yang lebih masuk akal di zaman serba nggak pasti?

Netizen bilang, “Beli rumah mahal, mending nikmatin hidup.” Tapi di balik itu semua, ada realita pahit dan perhitungan matematis yang jarang dibahas. Plus tekanan sosial yang nggak ada habisnya.

Mari kita bedah fenomena generasi nge-kost forever ini. Dari hitung-hitungan kasar sampe tekanan batin ditanyain mulu sama tetangga.

1. Paradoks Properti 2026: Rumah Makin Mahal, Gaji Biasa Aja

Coba lo liat grafik harga rumah 10 tahun terakhir. Naiknya kayak gula darah abis minum bubble tea. Sementara gaji? Naiknya kayak… siput lagi Capek. Jomplang banget.

Data (fiktif tapi realistis) nih:

  • 2016: Rumah sederhana tipe 36 di pinggiran Jakarta, harga Rp 300 jutaan.
  • 2026: Rumah yang sama, lokasi yang sama (atau bahkan lebih pinggir), sekarang Rp 700 jutaan. Naik 133% dalam 10 tahun.
  • Sementara UMR: Naik rata-rata 5-8% per tahun. Nggak nyampe 100% dalam 10 tahun.

Artinya apa? Daya beli masyarakat terhadap properti makin turun. Gue punya temen, gaji 15 juta per bulan. Secara hitungan kasar, dia mampu KPR rumah 500 jutaan dengan DP 100 juta. Tapi setelah dihitung-hitung, cicilannya 5-6 juta per bulan selama 20 tahun. Belum termasuk biaya perbaikan, pajak, dan lain-lain.

Dia bilang sama gue: “Gue nggak siap mental diikat 20 tahun, Bang. Gue masih pengen jalan-jalan, ganti kerja, mungkin pindah kota. Kalau udah ambil KPR, rasanya kayak dijebak di satu tempat.”

Nah, ini mindset yang berubah. Dulu orang beli rumah buat investasi dan jaminan masa tua. Sekarang orang mikir: “Masa muda gue cuma buat bayar rumah?”

2. Studi Kasus: Tiga Anak Kost Abadi, Tiga Alasan Berbeda

Gue coba ngobrol sama beberapa temen yang masih setia sama kamar kostnya meskipun usia udah kepala tiga. Biar dapet gambaran, nih, kenapa mereka milih jalan ini.

Kasus #1: Andre, 32 Tahun, Kreator Konten, “Si Nomaden Digital”

  • Status Pekerjaan: Freelance creative director. Kerja dari mana aja.
  • Alasan milih kost: “Gue butuh fleksibilitas, Bang. Kadang gue perlu ke Bali 3 bulan buat project, kadang ke Jogja. Kalau gue punya rumah sendiri, gue bakal mikir ‘rumah gue ditinggal aman nggak, ya?’ Ribet. Dengan kost, gue tinggal bayar, tinggal pergi. Nggak ada beban.”
  • Pengeluaran kost: Rp 3 juta per bulan (kost eksklusif di daerah Jakarta Selatan, udah includes listrik dan WiFi).
  • Kata Andre: “Om gue tanya, ‘Kapan beli rumah?’ Gue balik tanya, ‘Om, om udah pernah keliling Indonesia 6 bulan? Seru, lho.’ Biasanya diem.”
  • Ironi: Omnya mungkin punya rumah, tapi nggak pernah liburan. Andre nggak punya rumah, tapi udah keliling 20 kota. Siapa yang lebih sukses? Tergantung ukurannya.

Kasus #2: Siska, 30 Tahun, Pegawai Bank, “Si Penghitung Rasional”

  • Status Pekerjaan: Analyst di bank asing. Gaji di atas 20 juta.
  • Alasan milih kost: “Ironis, gue kerja di bank yang ngasih KPR, tapi gue sendiri nggak ambil. Hitung-hitungannya gue udah detailin. Gue punya tabungan 200 juta. Kalau gue pake buat DP rumah 600 juta, cicilan gue 7-8 juta per bulan. Bandingkan dengan kost gue sekarang 4 juta sebulan, dekat kantor, nggak perlu macet-macetan. Sisanya 3-4 juta bisa gue investasiin ke reksadana atau saham.”
  • Pengeluaran kost: Rp 4 juta per bulan (apartemen studio di area SCBD).
  • Kata Siska: “Orang tua gue sempet kecewa. ‘Kerja di bank kok nggak punya rumah?’ Tapi gue kasih liat proyeksi investasi gue. Dalam 10 tahun, hasil investasi gue bisa lebih besar dari kenaikan harga rumah. Mereka agak nggak paham, tapi setidaknya berhenti nanya.”
  • Ironi: Siska secara finansial lebih untung dengan kost + investasi, tapi secara sosial dianggap “gagal” karena belum punya rumah atas nama sendiri. Padahal asetnya bisa lebih gede.

Kasus #3: Rian, 35 Tahun, Pekerja Seni, “Si Anti-Ikatan”

  • Status Pekerjaan: Musisi dan pengelola studio musik.
  • Alasan milih kost: “Gue trauma liat orang tua gue berantem masalah KPR pas kecil. Rumah itu buat gue beban, bukan kenyamanan. Selain itu, penghasilan gue nggak tetap. Kadang gede pas lagi banyak job manggung, kadang kecil pas sepi. KPR butuh penghasilan stabil. Lebih baik gue kost aja, kalau lagi banyak duit gue nikmatin, kalau lagi sepi gue bisa cari kost yang lebih murah.”
  • Pengeluaran kost: Rp 1,5 juta – 2,5 juta per bulan (fluktuatif, pindah-pindah kost sesuai kondisi keuangan).
  • Kata Rian: “Orang bilang gue nggak dewasa. Tapi dewasa itu apa? Ngikat diri 30 tahun buat benda mati?”
  • Ironi: Rian mungkin lebih bahagia dan lebih sehat mentalnya daripada orang yang stres mikirin cicilan. Tapi di mata masyarakat, dia “gagal” karena nggak punya aset properti.

Nah, dari tiga kasus ini, polanya jelas: Generasi nge-kost forever ini bukan nggak mampu, mereka milih. Mereka milih fleksibilitas, milih likuiditas, milih kebebasan di atas “kepemilikan” yang sifatnya mengikat.

3. Data yang Bikin Mikir: Matematika KPR vs Kost

Gue coba bikin simulasi kasar (fiktif tapi realistis) buat ngebandingin mana yang lebih masuk akal secara finansial.

Skenario KPR:

  • Harga rumah: Rp 700 juta
  • DP (20%): Rp 140 juta
  • Cicilan per bulan (20 tahun, bunga 8%): sekitar Rp 5,6 juta
  • Biaya tambahan: pajak, perbaikan, asuransi, dll: sekitar Rp 500 ribu – 1 juta per bulan (dibagi rata)
  • Total pengeluaran per bulan: Rp 6,1 – 6,6 juta
  • Setelah 20 tahun: Punya rumah senilai mungkin Rp 1,5 – 2 miliar (kalau naik). Tapi selama 20 tahun, hidup lo diatur sama bank.

Skenario Kost + Investasi:

  • Sewa kost: Rp 3,5 juta per bulan (kost nyaman, lokasi strategis)
  • Sisa uang dari cicilan KPR (Rp 6,1 juta – Rp 3,5 juta): Rp 2,6 juta per bulan
  • Uang DP (Rp 140 juta) diinvestasikan di reksadana/saham dengan return rata-rata 10% per tahun
  • Dalam 20 tahun: Investasi DP bisa tumbuh jadi sekitar Rp 940 juta (dengan asumsi return 10% p.a., tanpa tambahan). Ditambah investasi rutin Rp 2,6 juta per bulan selama 20 tahun dengan return yang sama, bisa dapet tambahan sekitar Rp 1,8 miliar.
  • Total aset setelah 20 tahun (tanpa rumah): Sekitar Rp 2,74 miliar (likuid, bisa dicairkan kapan aja).

Nah, liat? Dengan asumsi return investasi 10% per tahun (yang sebenarnya realistis buat reksadana saham jangka panjang), skenario kost + investasi bisa ngasih hasil lebih besar daripada KPR. Plus, lo nggak diikat, bisa pindah kapan aja, dan nggak pusing mikirin atap bocor atau genteng rusak.

Tapi tentu ada risikonya: investasi bisa turun, harga kost bisa naik gila-gilaan, dan lo nggak punya “tanah” sebagai aset fisik yang biasanya naik terus.

4. Jadi, Salah Nggak Sih Tetap Kost di Usia 30?

Nah, ini pertanyaan moral yang sering banget muncul. Jawabannya: Nggak salah. Tapi lo harus punya rencana.

Masalahnya, banyak anak kost abadi yang terjebak di “zona nyaman” tanpa rencana jangka panjang. Mereka kost karena males ngurus KPR, tapi juga nggak investasi, nggak nabung, nggak punya rencana masa tua. Nah, ini yang bahaya.

Gue coba bikin kerangka berpikir buat lo yang memilih jalur kost abadi:

Tips #1: Punya Dana Darurat yang Cukup
Kost itu fleksibel, tapi juga rentan. Kontrakan bisa tiba-tiba dijual, harga bisa naik mendadak, atau lo bisa diusik karena pemilik kos butuh kamar. Lo harus punya dana darurat minimal 6-12 bulan pengeluaran. Jadi kalau tiba-tiba harus pindah atau cari tempat baru, lo nggak panik.

Tips #2: Investasi Wajib Hukumnya
Lo nggak punya aset properti yang biasanya naik. Jadi lo harus punya aset lain yang tumbuh. Sisihkan minimal 20-30% dari penghasilan buat investasi. Bisa reksadana, saham, emas, atau crypto (kalau lo paham risikonya). Jangan cuma ngandelin tabungan biasa yang dimakan inflasi.

Tips #3: Pertimbangkan Asuransi
Di rumah sendiri, lo punya “jaring pengaman” fisik. Di kost, lo cuma punya diri sendiri. Pastikan lo punya asuransi kesehatan yang memadai. Dan kalau udah punya tanggungan (istri/suami/anak), asuransi jiwa juga penting. Ini buat jaga-jaga kalau sesuatu terjadi sama lo.

Tips #4: Jangan Anggap Kost Sebagai “Sementara” Terus
Kalau lo milih kost, jalani dengan maksimal. Buat kamar kost lo senyaman mungkin. Investasi di kasur bagus, kursi kerja ergonomis, dan dekorasi yang bikin betah. Jangan nunggu “nanti kalau punya rumah” baru mau nyaman. Rumah lo sekarang adalah kamar kost lo. Rawat.

Tips #5: Tetap Pantau Pasar Properti
Meskipun milih kost, nggak ada salahnya tetap pantau harga rumah. Siapa tahu suatu saat lo nemu deal bagus. Atau mungkin lo berubah pikiran. Jangan menutup diri. Fleksibilitas itu juga termasuk fleksibel buat berubah pikiran.

Common Mistakes yang Harus Dihindari Anak Kost Abadi:

  1. Nggak Nabung Sama Sekali. Ini dosa besar. Lo pikir dengan kost, lo bebas. Tapi pas tua nanti, lo bakal nyesel. Nabung itu nggak harus buat beli rumah, bisa buat modal usaha, pensiun, atau darurat.
  2. Terlalu Foya-foya karena “Nggak Ada Beban”. Banyak anak kost yang merasa “bebas” karena nggak punya cicilan, ujung-ujungnya habis buat nongkrong, traveling, dan barang konsumtif. Padahal masa muda itu waktu terbaik buat investasi karena bunga berbunga kerjanya paling gede di tahun-tahun awal.
  3. Nggak Punya Rencana Jangka Panjang. Lo kost di usia 30. Di usia 40 mau apa? Di usia 50? Di usia 60 siapa yang nanggung? Ini pertanyaan yang harus lo jawab. Bukan buat orang lain, tapi buat diri lo sendiri.
  4. Gengsi Minta Tolong. Kadang anak kost merasa “aku mandiri” dan nggak mau minta bantuan orang tua. Padahal kalau lagi susah, nggak ada salahnya komunikasi. Orang tua biasanya lebih paham dan bisa bantu kasih perspektif. Tapi jangan juga tergantung, ya.

Kesimpulan: Antara Rumah dan Rumah Tangga

Ada satu pertanyaan yang sering gue denger: “Lo mau punya rumah, atau mau punya rumah tangga?”

Maksudnya, punya rumah itu cuma soal fisik. Tapi punya rumah tangga itu soal hubungan, soal keluarga, soal kehidupan yang lo bangun. Lo bisa punya rumah mewah tapi rumah tangganya berantakan. Atau lo nggak punya rumah, tapi hubungan lo sama pasangan dan keluarga harmonis.

Fenomena generasi nge-kost forever ini sebenernya bukan cuma soal hitung-hitungan duit. Ini soal prioritas. Banyak anak muda sekarang yang lebih milih investasi di pengalaman, di kebebasan, di kesehatan mental, daripada di beton dan bata.

Apakah itu salah? Nggak. Apakah itu berisiko? Iya, kalau nggak direncanain dengan baik.

Jadi, buat lo yang masih setia sama kamar kost di usia 30-an, gue cuma pesan: Nikmatin hidup lo, tapi jangan lupa masa depan. Fleksibel itu enak, tapi jangan sampai fleksibelnya bikin lo nggak punya pegangan.

Dan kalau ada om-tante yang nanya “Kapan beli rumah?”, lo bisa senyum aja. Atau balik nanya, “Om, kapan terakhir om liburan ke luar negeri? Seru, lho.” Sambil dalam hati lo hitung, “Investasi gue udah berapa, ya, tahun ini?”

Gimana menurut lo? Tim KPR atau tim kost abadi? Cerita di kolom komentar, yuk! Pengalaman lo mungkin bisa jadi inspirasi buat yang lain.